Buta Bukan Berarti…

Juni 26, 2011 pukul 1:36 am | Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar
Tag:

Suatu hari ketika saya hendak pulang dari Bandung menuju Purwokerto, saya menuju terminal Cicaheum bermaksud untuk menggunakan bis B*diman jurusan Bandung-Wonosobo yang melewati Purwokerto. Saya datang keterminal hampir bersamaan dengan bus B*diman berangkat meninggalkan terminal, saya pun segera lari untuk menaiki bis tersebut. Ketika saya masuk terlihat hampir seluruh jok bis dengan seat 2-2 ditempati penumpang, dari mulai jok paling depan hingga kebelakang. Namun ada satu jok yang terlihat kosong di deretan kedua, cukup mengherankan karena biasanya kebanyakan pengguna bis menyukai deretan satu hingga empat dibelakang jok paling depan. Tampak disamping jok kosong tersebut seorang pria yang kurang lebih seumuran saya duduk dengan menggunakan sweater hingga menutupi bagian kepalanya. Menggunakan blue jeans dan memeluk tas gendong sambil terlihat agak kedinginan menghadap jendela. Saya pun dengan basa-basi menanyakan status jok kosong tersebut pada orang itu.
“Jok ini kosong mas…?” tanya saya.
Namun saya malah dicuekin orang itu, dia hanya diam seperti tak menghiraukan saya. Namun karena saya yakin jok ini kosong maka saya pun duduk disampingnya, dalam hati saya agak kesal, ini orang ditanya baik-baik malah diam saja.
Perjalan pun dimulai, dan saya sangat bersyukur karena masih bisa menggunakan bis satu-satunya bis B*diman jurusan Bandung-Wonosobo yang cukup nyaman dibanding dengan PO bis lainnya. Tapi ada yang masih mengganjal, kenapa jok bis deretan depan yang biasanya selalu menjadi jok favorit penumpang justru malah tidak ada yang menempati. Kemudian sambil pura-pura melihat ke jendela bis saya sedikit memperhatikan orang yang mencuekan saya tadi, dia memejamkan mata, terlihat agak kedinginan memeluk tas nya. Kedinginan tapi kok malah AC bis nya dibuka dua-duanya…? Aneh orang ini, terus saya perhatikan disamping tas gendongnya terlihat ada pipa-pipa alumunium kecil yang bertali. Wah sepertinya orang ini anak ITB jurusan teknik fikir saya waktu itu.
Memasuki daerah Cibiru saya ditagih tiket, karena tinggal saya yang belum membayar tiket, sedangkan penumpang lain sudah ditarik tiket. Saya pun membayar tiket seharga Rp.55.000, yang termasuk jatah satu kali makan di tempat peristirahatan bis di daerah Ciamis. Setelah membayar tiket tiba-tiba pria disamping saya bertanya dengan sedikit mengarahkan muka nya ke arah saya, tapi tidak pas menghadap muka saya. Dia bertanya dengan suara yang sangat pelan.
Karena suaranya terlalu pelan saya Cuma bilang “Apa mas….?”
“Mas ke Purwokerto berapa tiketnya…?” tanya nya dengan suara lebih keras dari sebelumnya, dan saya kaget waktu itu, dia ternyata seorang tuna netra!
Hmmmm….. ternyata mungkin ini jawaban dari semua kejanggalan tadi. Ketika saya menanyakan perihal jok kosong, pertanyaan saya tidak dijawab karena mungkin orang ini tidak tahu kalau saya sedang bertanya pada nya, mungkin fikirnya suara orang yang menanyakan jok kosong ini bertanya pada orang lain. Dia tampak kedinginan dengan memeluk tas gendongnya denga erat padahal lubang AC diatasnya dalam keadaan terbuka lebar, tidaklah mengherankan sekarang, karena bagaimana dia bisa tahu posisi lubang AC berada dengan keadaan mata gelap gulita. Dia terlihat menghadap jendela dengan mata terpejam, sebenarnya bukan terpejam, tapi memang kondisinya seperti itu, dan jika pun dia membukakan matanya hanya bisa membuka sedikit dengan bagian mata yang terlihat semuanya putih. Satu lagi yang baru saya sadari, ternyata potongan-potongan pipa alumunium kecil yang berada di samping tas gendong nya ternyata itu adalah tongkat tuna netra yang jika talinya ditarik akan membentuk tongkat alumunium.
Subhanalloh…. tidak terfikirkan sedikit pun sebelumnya, dan satu hal lagi yang menjadi jawaban adalah kenapa tidak ada orang di kursi itu, karena mungkin diantara penumpang bis tersebut tidak ada yang mau duduk dengan orang yang cacat seperti itu, mungkin merasa risih jika melihat kedaan seseorang dengan fisik yang tidak sempurna. Rasanya tidak adil dunia ini untuk orang-orang seperti mereka (cacat), padahal mereka bukan ingin dikasihani tetapi justru mereka juga pasti ingin dianggap keberadaannya sama seperti yang lain.
Sempat saya mengobrol dengan orang ini untuk mencoba menghangatkan suasana, dia bermaksud untuk menuju Bukateja (daerah Purbalingga-Banjarnegara kalau tidak salah), namun saya lupa untuk menanyakan namanya.
Terkadang kita merasa risih atau enggan untuk melihat keadaan fisik seseorang yang tidak sempurna, tetapi cobalah untuk bisa menerima keadaanya, toh jika dia bisa meminta pada Tuhan pasti dia minta untuk dilahirkan dengan sempurna. Bagi kita yang memiliki fisik sempurna (tidak cacat) bisa jadi keberadaan orang seperti itu adalah untuk membuat kita lebih bersyukur, jangan berfikiran kita cantik atau ganteng dulu, tetapi dengan keadaan kita yang sempurna pun harusnya kita bersyukur, karena ada yang lebih disukai banyak orang dari hanya sekedar cantik atau ganteng secara fisik, yaitu inner beauty.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kunjungan balik..Wahh mantep kang🙂

  2. cerita yang bagus ^^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: